Turnamen Thailand Masters yang digelar baru-baru ini hanyalah turnamen Super 300, termasuk level menengah dalam dunia bulu tangkis. Meski begitu, turnamen ini menjadi kesempatan penting bagi China untuk mengakhiri paceklik gelar tunggal putra yang telah berlangsung lebih dari sebulan.

Sebelumnya, para pemain tunggal putra China mengalami kekalahan beruntun di Malaysia Open (Super 1000), India Open (Super 500), dan Indonesia Masters (Super 500). Kekalahan ini membuat harapan untuk meraih gelar menipis.
Shi Yuqi, petenis nomor satu dunia saat ini, menjadi sorotan utama. Ia kalah tipis 21-23 di set pertama final Malaysia Open dari Kunlavut Vitidsarn, kemudian mundur dengan skor 1-6 di set kedua karena cedera. Hal ini memicu kritik dari penggemar China yang menilai Shi “mudah menyerah ketika dalam tekanan.”
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Kekosongan Pemain Tunggal Putra China
Cedera memang tak terhindarkan dalam olahraga, namun absennya Shi Yuqi membuat China kehilangan pemain tunggal putra yang mampu bersaing di level tertinggi. Tanpa dia, tidak ada pengganti yang cukup kuat untuk merebut gelar di turnamen-turnamen besar.
Akibatnya, setelah empat turnamen BWF di Januari 2026, China tetap gagal menambah gelar tunggal putra. Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar bagi penggemar bulu tangkis di negara tersebut.
Kekosongan kualitas ini menunjukkan masalah serius dalam regenerasi pemain tunggal putra, yang selama ini menjadi kekuatan utama China di kancah dunia.
Baca Juga: Lanny dan Fadia Akhiri Kerjasama dengan Kekalahan di Kejuaraan Dunia 2025
Dominasi Tunggal Putri dan Hambatan An Se Young

Di nomor tunggal putri, China sebenarnya memiliki beberapa pemain kuat seperti Chen Yufei dan Wang Zhiyi. Namun kenyataan pahitnya, keberhasilan mereka sangat bergantung pada ketidakhadiran An Se Young, pemain Korea Selatan peringkat satu dunia.
An Se Young telah mendominasi para pemain China selama lebih dari setahun, menjuarai lebih dari 10 turnamen berturut-turut. Pada Januari 2026, ia secara berturut-turut mengalahkan Wang Zhiyi di final Malaysia Open dan India Open.
Kesempatan baru datang ketika An Se Young absen di Indonesia Masters. Chen Yufei memanfaatkan momen itu untuk memenangkan gelar tunggal putri pertama tahun 2026 bagi China. Namun keberhasilan ini tidak berlangsung lama, karena di Thailand Masters, dominasi Korea kembali membatasi kemenangan China.
Rekor Buruk dan Kekhawatiran Masa Depan
Hingga empat turnamen besar awal 2026, China hanya berhasil memenangkan 4 dari 20 gelar yang diperebutkan. Lebih mengejutkan, hanya satu gelar diraih di nomor tunggal, yang selama ini menjadi andalan mereka.
Kegagalan ini menimbulkan tanda tanya besar tentang masa depan bulu tangkis China, baik dari segi kualitas maupun kuantitas pemain. Dominasi yang dulu menjadi ciri khas mereka kini mulai tergerus oleh kompetitor internasional.
Para penggemar kini khawatir regenerasi pemain tidak berjalan mulus, sehingga China perlu mencari solusi cepat untuk mempertahankan prestise dan reputasi mereka di pentas dunia. Simak terus pembahasan olahraga terupdate lainnya hanya di sports4everyone.org.
